Sejak dikeluarkannya SK.5663/MENLHK-PKTL/REN/PLA.0/10/2020 melalui Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan pada tanggal 15 Oktober 2020 tentang penetapan areal kerja izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan pembangunan jalan angkut BatuBara atas nama PT. Marga Bara Jaya seluas 420,73 Ha pada kawasan Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap di Kabupaten Musi Rawas Utara dan Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi, FORMAPHSI mempermasalakan Keputusan MENLHK yang bertolak belakang dengan Komitmen Pemerintah Indonesia dalam mengatasi perubahan Iklim pada kesepakatan Paris dalam persetujuan UNFCCC (United Nation Convention on Climate Change) untuk mengawal reduksi emisi karbondioksida yang berlaku sejak tahun 2020.

Menurut Adiosyafri perwakilan dari FORMAPHSI, pihaknya sejak awal telah menyampaikan nota  keberatan terhadap rencana pembangunan jalan Angkut BatuBara PT. Marga Bara Jaya yang berada dalam kawasan Hutan Harapan (IUPHHK-RE PT. Restorasi Ekosistem Indonesia), karna akan berdampak buruk secara sosial terkhusus pada suku anak dalam yang masih semi nomaden, dan kerusakan hutan alam tersisa di Sumsel dan Jambi.

Upaya keberatan disampaikan FORMAPHSI sejak tahun 2019 hingga saat ini, mulai dari pengawalan pembahasan Andal, Aksi Penolakan Rencana Pembangunan Jalan Angkut Batubara PT. Marga Bara Jaya, serta menyampaikan keberatan Rencana Pembangunan Jalan Angkut Batubara  kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, DPRD Provinsi Sumatera Selatan, KLHK baik itu secara langsung kepada Ibu Menteri Siti Nurbaya maupun melalui Dirjen terkait.

” hingga upaya terakhir keberatan di sampaikan kepada Presiden Indonesi Bapak Joko Widodo melalui Surat permohonan Mengalihkan Rute Jalan Angkut BatuBara PT. Marga Bara Jaya pada Bulan Oktober 2020 lalu,”ungkap Adios

Sayangnya keberatan FORMAPHSI terhadap Izin Pinjam Pakai Kawasan untuk Pembangunan Jalan Angkut Batubara PT. Marga Bara Jaya tidak di hiraukan oleh Pemerintah.

“Pemerintah terkesan lebih Suka merusak Hutan Alam dataran rendah yang tersisa, dari pada menyelamatkan Habitat Flora Founa yang teracam punah, dengan memberi akses kepada PT. Marga Bara Jaya untuk melenggang bebas membelah dan membabat Hutan Harapan ditambah Bonus kayu alam yang sudah dijaga dan dirawat sampai saat ini,”Tutupnya.