Suku Anak Dalam (SAD) yang mendiami kawasan Hutan Harapan, Desa Sako Suban, Kecamatan Batang Hari Leko, Kabupaten Musi Banyuasin, belum maksimal mendapatkan perhatian pemerintah. Oleh karena itu, Wakil Bupati Muba Beni Hernedi turun langsung mengajak OPD terkait untuk melakukan pendataan terhadap SAD di tempat itu sebagai dasar pemberian berbagai macam bantuan baik dari pusat maupun daerah.

Beni mendatangi langsung Dusun 3 Kapas Tengah dan Dusun 5 Ulu Badak, Desa Sako Suban, pada 6 November 2020. Beni pun bisa menyaksikan sendiri bagaimana kondisi SAD yang sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah.

“Kita sudah lihat sendiri, faktanya ada ratusan KK yang mendiami tempat itu, di Ulu Badak. Itu jauh dari pantauan kita. Orang-orang yang ada di situ yang sedang kita pelajari,” ujar Beni, Sabtu (07/11).

Menurut Beni, sesuai prosedur bahwa seorang warga negara Indonesia harus terdata dibuktikan dengan KTP. Hanya saja, ketika berhadapan dengan SAD kondisinya sedikit berbeda dari masyarakat kebanyakan, sehingga butuh penyesuaian tertentu. Salah satunya, Beni yang datang membawa tim dari Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) dengan disertai alat-alat perekaman data untuk membuat e-KTP.

“Kita menemukan bagaimana saudara-saudara kita yang merupakan suku anak dalam ini berbeda. Namun kerumitan-kerumitan yang terjadi ini masih hal yang wajar. Misal, kalau tim Disdukcapil Muba itu bertanya, mereka (SAD) kadang tidak nyambung,” terangnya.

Dengan berbagai kondisi yang ada, sambung Beni, Pemkab Muba akan semaksimal mungkin memberi pelayanan kepada SAD. Jangan sampai SAD yang jelas-jelas berada di wilayah Kabupaten Muba tidak terdaftar dan tidak mendapatkan pelayanan kependudukan dari pemerintah.

“Dengan adanya KTP, KK, maka akan dapat bantuan lain, seperti BLT, bantuan sosial termasuk kita tahu keberadaan mereka. Tentu seterusnya, saya melihat kalau mungkin memang harus diakui saudara kita yang dari suku anak dalam di wilayah Kapas Tengah itu, hidupnya masih mengembara di hutan-hutan,” jelasnya.

Menurut Beni, kondisi SAD ini di satu sisi menjadi persoalan bagi pemerintah. Namun di sisi lain, itulah kehidupan mereka yang harus dihormati dan dilestarikan.

“Mengapa mereka masih bisa hidup mengembara, katakanlah mereka masih bisa begitu. Berarti DAS (Daerah Aliran Sungai) Meranti dan DAS Kapas kelompok hutan di sana masih memiliki daya dukung untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” kata dia.

Satu bukti juga, terangnya, memang pemerintah harus hadir untuk menyentuh SAD itu. Ini sudah dilakukan dengan melakukan pendataan.

“Kemudian akan diadakan layanan pemerintah dengan PT REKI (Restorasi Ekosistem Indonesia). Kita sudah berbicara, misalnya REKI punya sekolah alam, nanti mungkin akan dikembangkan di sana nanti akan membangun sekolah. Mungkin yang disesuaikan, dengan kondisi disitu,” tandas dia.

Selain melihat langsung SAD di Desa Sako Suban, Wabup Muba bersama PMI Muba juga melakukan penanaman pohon durian di Hutan Harapan yang berada di Dusun 3 Kapas Tengah. Wabup Muba juga memberikan bantuan untuk warga Dusun 3 dan Dusun 5 Desa Sako Suban, berupa kain sarung, baju muslim, Alquran dan beras. (ije)

 

Berita ini dikutip dari Media Online fornews.co